Kami Mencari Perawat Freelance

Hanya untuk yang amanah dalam bekerja

Daftar Sekarang

Tips Sukses Komunikasi Perawat dan Lansia

Ternyata, merawat orang tua di rumah membutuhkan keterampilan dan strategi komunikasi tingkat tinggi. Ingin tahu caranya?

Pada lansia mereka merasa akan  lebih nyaman tinggal di rumah bersama keluarga. Dengan kondisi kesehatan yang kadang menurun, membuat para lansia menjadi tergantung pada keluarga. Kadang  Anda sebagai perawat lansia atau anggota keluarga di rumah menghadapi  kesulitan komunikasi.

Berkomunikasi dengan orang tua sering membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra saat merawat dan berkomunikasi dengan mereka.

Cara sukses berkomunikasi dengan lansia yang bisa dilakukan perawat saat merawat lanjut usia:

1. Latih Kesabaran dan Kepedulian

Tak perlu diragukan kalau  kesabaran dan rasa peduli sering dibutuhkan saat berhubungan dengan orang tua. Biasanya Anda akan menghadapi tantangan fisik, gerakan lamban, faktor lupa, kekurangan, sikap apatis dan lainnya.

Terkadang hal seperti ini membuat perawat lansia  atau anggota keluarga ainnya mudah kehilangan kesabaran dan menjadi frustrasi. Seseorang bahkan mungkin tergoda untuk ‘menyerah’ dan memilih pergi.

Dalam keadaan seperti ini, akan sangat membantu kalau menempatkan diri Anda pada kondisi lansia meski untuk sesaat saja.

Anda  perlu cerdik untuk berkomunikasi dengan lansia. Sebaiknya ungkapkan dengan kata-kata yang menyejukkan dan tidak bernada perintah. Misalnya Anda mengatakan dengan penuh kesabaran dan rasa peduli.

Contohnya:

”Mungkin kondisi sakit ini membuat Ibu enggak enak enak. Namun bisa lakukan kok perlahan.”

“Memang sulit bergerak dengan kondisi atritis begini Bu. Tetapi percaya deh ibu tetap dapat  bergerak kok walau perlahan.“

Di sini Anda perlu melakukan komunikasi dengan nada peduli dan tidak bernada perintah. Di sini perawat lansia memerlukan banyak kesabaran dan kepedulian. Bila Anda belum memiliki kesabaran, Anda mesti meluangkan lebih banyak waktu dengan lansia.  Bila Anda dilanda kesal sebaiknya menyingkir sebentar dan bila sudah tenang bias bicara kembali.

2. Meminta dengan Baik-baik dan Jangan Memerintah

Seperti dijelaskan sebelumnya, salah satu kebutuhan kaum lansia adalah merasa dihormati. Anda dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan meminta dibandingkan hanya dengan memerintah saat berkomunikasi dengan lansia.

Contohnya  bila Anda mengatakan, “Ibu  akan makan sup siang ini.” Sebaiknya katakan hal ini: “Ibu mau makan dengan sup ayam?” . Paling baik yang Anda sampaikan adalah dengan menawarkan pilihan bagi lansia : “Apakah ibu mau makan sup ayam atau sayur lodeh?”

Bila Anda menanyakan pilihan bagi lansia, mereka akan merasa dihargai. Menawarkan pilihan juga akan tetap memberikan ruang kontrol dalam diri lansia untuk dirinya sendiri.

Dengan kondisi yang kurang sabar dan kemampuan fisik menurun, dengan menanyakan kepada mereka memberikan mereka senang karena dilibatkan dalam aktivitas.

3. Bertanyalah Terlebih Dahulu dibanding Berasumsi

Tanpa disadari banyak perawat lansia yang berasumsi untuk menilai kebutuhan para lansia yang dirawat. Daripada berasumsi lebih baik Anda tanyakan atau diskusi menyangkut satu tindakan yang akan dilakukan. Misalnya saja, Anda ingin mematikan lampu kamar tidur, sebaiknya bertanya terlebih dahulu. “Pak  bolehkah saya mematikan lampu kamar?”

Bila memang tidak membahayakan atau melukai kondisi lansia yang Anda rawat Anda dapat awasi. Kalau  Anda ingin melakukan satu tindakan jelaskan alasan mengapa Anda melakukan hal tersebut.

4. Gunakan Kata-Kata Sopan

Dari banyak  studi tentang komunikasi efektif bahwa orang-orang (termasuk banyak orang dewasa dan lansia) umumnya tidak merespon dengan baik saat mereka merasa selalu diperintah untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Sebagai contoh: “Bapak harus berolahraga hari ini!”,  “Ibu harus minum obat Anda!”, “Bapak habiskan sup ini!”atau  “Ibu sebaiknya harus ikut terapi!”

Ketika mendengar hal ini, kemungkinan besar lansia  akan merespons dengan apa yang disebut oleh psikolog sebagai “Tiga F” yaitu  Fight, Flight, dan Freeze. Hal ini menyebabkan masalah perilaku seperti sering berargumen, menghindar,  atau malah bersikap keras kepala.

Sebagai gantinya, coba Anda gunakan pernyataan lebih sopan dan gunakan kata “saya, kita, ayo, yuks, mari”. Contoh:

“Yuk Ibu, saya akan membantu olahraga hari ini.”

“Ini penting untuk kesehatan ibu lho. Ayo bu, minum obat ini.”

“Wah, kayaknya kita  perlu mengeluarkan udara segar ke dalam ruangan. Saya buka ya jendela kamar sebentar.”

“Ini sepertinya sup lezat habiskan ya Bu?”

Jenis pernyataan ini memaksa lansia untuk lebih terbuka terhadap apa yang Anda katakan, mendorong untuk mendengarkankan apa yang Anda minta mereka lakukan.

5. Berikan Pilihan Saat Memungkinkan

Banyak lansia yang tetap ingin mempertahankan kemandirian dan kemerdekaan mereka. Hal ini mungkin menjadi bagian penting bagaimana mereka merasakan tentang fisik dan berkurangnya kemampuan berpikir, namun mereka tetap ingin mempunyai kontrol pada dirinya.

Karena itu, selama memungkinkan tetap tawarkan pilihan kepada mereka. Hal ini akan sangat sederhana seperti ketika Anda menanyakan kepada lansia untuk memilih makan siang ayam kari atau telur rendang. Dengan kondisi lansia yang memiliki kemampuan memilih dapat memberikan mereka rasa percaya diri, rasa aman, dan masih memiliki ‘kekuatan’ untuk bereaksi pada lingkungannya.

Tips Membangun Komunikasi Perawat dengan Lansia

Ahli patologi bahasa bicara Martin Shulman dan Ellen Mandel menawarkan tips untuk perawat dan anggota keluarga agar berkomunikasi dengan orang tua lebih mudah:

  • Mengurangi suara latar belakang yang mungkin mengganggu (misalnya mematikan radio atau TV, menutup pintu, atau pindah ke tempat lebih tenang).
  • Mulailah percakapan dengan topik santai (misalnya cuaca, menu makan siang) atau hal ringan lainnya). Jangan memulai dengan sesuatu yang serius sejak awal bicara.
  • Bicara dengan topik yang sudah dikenal misalnya tentang anggota keluarga dan kebutuhan orang tersebut.
  • Hindari perpindahan cepat dari topik ke topik.
  • Upayakan kalimat, pertanyaan singkat, dan jelas.
  • Beri kesempatan lansia momen untuk mengenang. Kenangan mereka penting bagi para lansia.
  • Berikan lansia waktu ekstra untuk merespons pembicaraan Anda. Upayakan jangan tergesa-gesa dengan mereka.
  • Berikan pilihan orang tua untuk memudahkan pengambilan keputusan, seperti “Apakah Ibu/Bapak ingin minum teh atau kopi?” dibanding bila Anda mengatakan “Apa yang ingin Anda minum?
  • Jadilah pendengar yang aktif. Carilah petunjuk dari tatapan mata dan isyarat. Seperti, “Wah saya tidak melihat berita ini kemarin bisa ceritakan enggak sih soal apa itu?”
  • Setelah kunjungan  dan pengalaman Anda merawat lansia, beritahu orang lain yang berkunjung (saudara, dokter, perawat, pembantu, dan lain-lain). Apa yang telah Anda pelajari untuk memperbaiki komunikasi dengan orang tua yang Anda rawat. Hal ini akan memudahkan anggota keluarga lain berkomunikasi dengan lansia.

 

Subscribe