Untuk Hari Depan Yang Lebih Baik

Care Giver

Alzheimer Membuat Lansia Melupakan Orang Tersayang

Alzhaimer membuat banyak orang luoa terhadap orang yang di sayanginya. Hal ini sering membuat konflik seperti pada ibu yang terkena alzheimer dan anak nya. Bagaimana kita menyikapi bila orang tua terserang alzheimer?

DY Suharya selaku Founder Azheimer Indonesia dan Regional Director Asia Pacific Alzheimer’s Disease International untuk lebih peduli dan menyayangi orang tua.

Satu hal yang membuat hatinya begitu senang karena dirinya menjadi medium bagi banyak orang untuk lebih care dengan orang tua mereka terutama saat orang tua mereka terkena gejala Alzheimer atau demensia.

“Saat kita kecil kita sering kali mengulang hal yang sama berkali-kali. Masak kalau ibu sendiri yang bertanya berulang-ulang kita menjadi kesal dan marah.Ada banyak hal yang membuat saya belajar untuk memahami ibu saya. Hal ini juga membuka banyak wilayah kesadaran saya untuk lebih mengerti ibu. Dan itu merupakan bentuk cinta yang luar biasa indahnya.”

Ternyata hal-hal ini menjadi hal yang menjadi bagian dari kampanyenya untuk mengenali panyakit Alzheimer demensia, demensia Alzheimer, dan lainnya. “September ini merupakan bulan Alzheimer dunia, semakin dini seseorang untuk diketahui mengidap penyakit ini maka penanganannya lebih cepat dan treatment perawatan dan pendampingan yang diberikan keluarga dan lingkungannya akan lebih baik.”

Jangan Maklum dengan Pikun, Tanda Alzheimer

Masyarakat juga harus lebih tahu tentang gejala-gejala Alzheimer. Jangan maklum dengan pikun dan penyakit demensia pada lansia, karena bila dibiarkan akan semakin parah. Daya ingat menurun. Gejala demensia sudah banyak diidap 55 tahun.Penyebabnya masih diteliti namun faktor risikonya bisa karena stres, depresi, gizi buruk dan lainnya.

“Ternyata saya sangat passionate about ageing. Selain itu semua orang pasti akan menjadi tua (lansia). Namun akan jauh lebih baik bila seseorang menjadi lansia yang sehat, mandiri, dihargai, dan memiliki hidup bermakna. Demensia berhubungan dengan siklus kehidupan, berpengaruh  sejak awal. Termasuk saat ibu hamil kalau dia dibentak maka bayinya akan mengalami gangguan. Bagi orang tua juga bila dibentak maka  hal tersebut bisa menurunkan sistem kekebalan tubuhnya dan di di masa mendatang akan berpengaruh terhadap kondisi otaknya,” tambah DY.

Saatnya Lebih Peduli pada Orangtua 

Bagi yang masih memiliki orang tua, sudah saatnya untuk lebih memperhatikan dan peduli, mumpung orang tua anda belum terkena penyakit Alzheimer dan demensia. “Jangan hanya bertemu atau telepon sebentar lalu berlalu begitu saja, seperti hanya selesaikan tugas biasa. Namun, lakukan hal itu dengan sepenuh hati. Perhatian dan kepedulian itu tidak perlu yang mahal dan waktu khusus. Coba ajak ibu atau ayah ngobrol bagaimana mereka pacaran saat muda, tempat-tempat nostalgia makanan, dan lainnya. Bila ada kesempatan ajak ibu atau bapak pergi ke restoran atau tempat mereka pacaran dahulu.”

Perhatian dan kepedulian itu tidak perlu yang mahal dan menyediakan waktu panjang, lanjut DY.  Bila masih tinggal sama orangtua, berikan waktu khusus untuk bicara. Atau komit setiap Sabtu siang untuk menemani makan, ke salon, atau kegiatan lainnya.Atau bila sudah tidak tinggal di rumah, upayakan satu waktu yang rutin dan komit untuk telepon, misalnya Sabtu atau Minggu malam.

Kalaupun kerap memberi hadiah atau barang itu memang hal yang bagus. Misalnya handphone yang baru namun perlu juga menyediakan waktu untuk memberitahu bagaimana menggunakannya. “Intinya, berikan kasih sayang dan perhatian kepada orangtua. Saya banyak share dengan anak muda untuk terus memberi perhatian ke orangtuanya. Apalagi kalau mereka mengalami kondisi penyakit pikun pada lansia ada lainnya. Apa yang saya alami ini memang lebih pada personal life dan berdampak pada kualitas hidup baik saya, ibu dan orang banyak,” tambah DY.

Meningkatkan Kesadaran Penyakit Alzheimer

Organisasi yang dipimpin DY ini menyelenggarakan aneka pelatihan di sekolah-sekolah untuk kesadaran anak-anak tentang gejala Alzheimer.“Saya tidak mau pengalaman saya ‘lari’ dari ibu saya dialami anak-anak atau orang lain. Justru anak harus menyayangi ayah dan ibunya dan tidak bingung menghadapinya kalau memiliki satu kondisi sakit,” tambahnya lagi.

Tahun ini menjadi tahun istimewa bagi DY dan ALZI. Karena ada berbagai gerakan dalam rangka bulan Alzheimer dunia yang mendapat dukungan berbagai talenta kreatif. Di antaranya dari grup musik Slank yang mendukung melalui video campaign #SayangOrtu, Remember Me Film Festival kompetisi film pendek penyakit Alzheimer dengan juri Riri Riza, Mira Lesmana, Andy Noya, dan  Dr Yuda Turana.

Selain itu  DY sendiri juga mendapat dukungan  Unika Atmajaya pada 30 September, Remember Me Charity Concert. Acara ini merupakan sebuah konser penggalangan dana yang dimotori Alumni Paduan Suara Paragita UI yang juga didukung oleh Dewi Lestari, Farman Purnama, Andi Rianto, Aning Katamsi, dan Amoroso Katamsi.

Tidak hanya itu juga akan diadakan di  Erasmus Huis 21 Oktober 2017, photo exhibition didukung oleh Jerry Aurum dan berbagai fotografer lainnya.  Ada satu lagi acara puncak #Road to Conference pada 4-5 November 2017, akan diselenggarakan 20th Asia Pacific Alzheimer’s Disease International Conference, di Hotel Fairmont, Jakarta bertema Dementia A Life-Cycle Approach. “Akan ada 60 forum yang membahas beragam hal tentang gejala Alzheimer dan dari pembicara dalam dan luar negeri. Ini menjadi hal baik untuk lebih meningkatkan kesadaran soal penyakit Alzheimer,” katanya semangat.

Dahulu DY kerap ribut dengan ibunya. Ternyata ibunya ini mengidap gejala Alzheimer. Sejak dia merawat ibunda dan menjadi aktivis dalam bidang penyakit Alzheimer.

Hidup seseorang berjalan tanpa pernah tahu arah akan kemana membawa langkahnya. Setidaknya demikian terlihat dalam perjalanan hidup Kusumadewi Suharya akrab disapa DY yang berkecimpung dalam bidang penyakit dan gejala Alzheimer yang dikenal sebagai Founder Azheimer Indonesia dan Regional Director Asia Pacific Alzheimer’s Disease International.

Bila melihat hidupnya sekarang ini dibanding 10 tahun lalu, akan mendapati jejak berbeda. Bertemu dengan sosoknya adalah melihat satu pribadi penuh semangat, positif dan selalu menularkan virus peduli untuk orang lain terutama lansia.

Saat ini dengan gerak langkahnya  belakangan ini, dia menjadi sosok yang selalu menjadi inspirasi bagi  banyak orang untuk lebih peduli pada orangtua.

Ya, melihat perjalanan DY akan menilik satu jejak langkah yang begitu aktif. Dengan berbagai kegiatannya dia lebih menghabiskan waktunya di luar rumah. Memang dia termasuk sosok yang aktif di berbagai kegiatan dan organisasi.

Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, dia menjadi sosok yang mandiri dan aktif. Sejak remaja hingga kuliah, dia sudah sering ikut beragam aktivitas. Dia lebih banyak lagi menghabiskan waktunya di luar. Mulai dari motret, ikut band, hingga menjadi wartawan di Prambors Radio RCTI.Tak cukup sampai di situ diapun ‘terbang’ lebih jauh lagi ke luar negeri. Dia sempat bekerja di Soundwriters Inc yang menangani berbagai program Lonely Planet di New York, CNN Washington DC USA, dan bahkan pernah bergabung menjadi konsultan kesehatan di World Health Organization (WHO) Geneva, Swiss.

Konflik dengan Ibu Karena Alami Alzheimer

Ketika itu dia merasa tidak betah di rumah.Ada banyak hal yang membuatnya tidak nyaman dan ini bersumber dari ibunya.Beragam hal-hal kecil selalu menjadi konflik. Tanpa pernah dia sadari kalau ibunya (Tien Suhertini) menunjukkan  gejala-gejala penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer adalah suatu penyakit yang menyerang saraf otak (neuro degenerative disease). Kondisi ini ditandai dengan  pikun atau penyakit mudah lupa, ketidakstabilan emosi dan beberapa fungsi otak yang menurun lainnya.

Pada tahun 2009 keluarga terkejut karena mendapati sang ibu terdiagnosis mengidap vascular demensia. “Karena sebelumnya saya dan keluarga melihat ibu sehat tidak ada masalah. Padahal dia sakit. Jadi penyebab saya dan keluarga selalu  ribut dengan ibu ya karena ibu sakit demensia sebagai bagian penyakit, gejala Alzheimer dan mengakibatkan volume otaknya mengecil. Kondisi ini membuatnya sangat depresi. Kalau ada beberapa hal yang tidak dapat disampaikan dengan kata-kata, maka diungkapkan dengan rasa marah.  Ibu saya selalu mengajak ribut setiap orang di rumah. Asisten Rumah Tangga tidak ada yang betah. Selalu ganti karena ibu selalu marah-marah yang membuat banyak ART kesal, bahkan dipecat dan jadi sering ribut, karena penyakit Alzheimer yang dideritanya” ungkap DY saat ditemui PerawatNers.com di bilangan Jakarta Selatan.

Mendampingi Ibu yang Mengidap Alzheimer 

Akhirnya DY merantau selama 15 tahun ke 3 benua seperti USA, Australia dan Eropa, lalu pada 2012 dia kembali ke Tanah Air. Melihat kondisi ibunya, dia menjadi mempunyai amanat dari alam semesta untuk membantu ibu dan keluarga lainnya.

“Ternyata bila diselusuri sejak kecil saya itu sudah punya ‘rasa gimana gitu’ saat bertemu dengan eyang atau seseorang lanjut usia. Kalau mau ikuti insting I am always melting lihat lansia. Ada ‘getaran’ yang muncul dalam hatinya  begitu bertemu lansia. Hanya saja saya belum menyadarinya. Ternyata itu semacam panggilan untuk saya. Ketika berdamai dengan ibu, saya terpanggil untuk membantu orang dengan penyakit demensia, Alzheimer dan caregiver lainnya, “

Pengalaman DY membuatnya dia mendirikan Alzheimer Indonesia (ALZI) bersama berbagai sahabat yang peduli dengan isu yang sama. Sebuah organisasi non profit  untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang mengalami penyakit demensia atau penyakit Alzheimer, keluarga dan caregiver di Indonesia. ALZI dibentuk pada 3 Agustus 2013.

ALZI banyak mendapat dukungan dari Alzheimer Nederland, Pemda DKI, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, media, perusahaan swasta, komunitas sukarelawan, profesional termasuk neurologis, psikiater, geriatri, mahasiswa, dan lainnya. “ALZI berfokus pada advokasi, pelatihan, peningkatan kesadaran publik, edukasi, riset, dan lainnya,”  ujar DY sebagai founder Alzheimer Indonesia ini.

Aksi Peduli Alzheimer Ternyata Berpengaruh Luas

Tak pernah diduga lewat Alzheimer Indonesia (ALZI) kian besar dan memberi banyak pengaruh positif bagi banyak orang. ”Saya tidak pernah menduga sebelumnya kalau lewat ibu dan ALZI akan menjadikan saya hingga ke level ini. Untuk meningkatkan kualitas banyak orang, termasuk saya sendiri,” ungkap DY tersenyum.

Ketika berdamai dengan ibu, DY mulai belajar mengerti dan memahami kondisi ibunya. “Saya tidak lagi bermusuhan. Malah saya justru empati karena kondisi ibu sendiri pun susah dan dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Tak terasa saya bersama ayah dan keluarga di rumah belajar banyak menjadi caregiver ibu di rumah.Saya menulis sebuah buku pengalaman membantu ibu dibantu sahabat saya Dian Purnama berjudul Ketika Ibu Melupakanku. “

DY  berupaya  dan berkomitmen untuk selalu merawat dan mendampingi ibu. “Ibu meninggal 21 April 2017 lalu. Satu hal saya belajar soal restu itu di bawah kaki ibu dan itu ternyata betul. Ya, ini pintu rezeki terbuka lebar, overwhelming it’s amazing I can make the best experience with my mom,” katanya sendu.

Ketika membantu ibu dan mendirikan ALZI DY tidak pernah menduga tentang ‘domino effect’ tentang apa yang lakukan. ALZI mendapat banyak dukungan baik dari Kementerian Kesehatan, Gubernur DKI Jakarta,  yang mendukung terwujudnya kota ramah demensia, Alzheimer dan ramah lansia.

“Apalagi ketika beberapa waktu lalu saya masuk acara Kick Andy mendapat sambutan positif dari masyarakat. Sekarang ada 15 komunitas caregiver  terbentuk di beberapa daerah seperti Depok, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Salatiga dan kota-kota lainnya. Saya bilang saya belum memiliki dana untuk mereka, tetapi mereka tetap bertekad dan jalan sendiri dengan berbagai dukungan dari mitra pendukung ALZI dari berbagai sektor. Ternyata saya senang lewat ibu dapat lebih banyak menjangkau orang banyak,” tambahnya.

Setiap Sabtu  pertama bulan baru, Alzi mengadakan pertemuan dengan komunitas caregiver. “Awalnya diikuti 12 orang kini sudah 60 orang  pertemuan. Kami saling berbagi dan menceritakan berbagai pengalaman.  Kami punya grup caregiver di Whatsapps jadi kami bisa berbagi info,” katanya.

Bersambung ke artikel bagian ke dua tentang ajakan DY Suharya untuk lebih menyayangi orangtua.  DY Suharya, Founder Azheimer Indonesia dan Regional Director Asia Pacific Alzheimer’s Disease International “Saatnya Tunjukkan Rasa Sayang Pada Orangtua”

Sejak November 2016 lalu selain perannya sebagai Founder Alzheimer Indonesia, DY dipercaya menjadi Regional Director Asia Pacific  Alzheimer’s Disease International. “Ya dengan restu ibu telah membuka jalan yang begitu luas bagi saya untuk lebih terlibat membantu banyak orang. Saat ini saya menjadi regional director untuk 17 negara di Asia Pacific.Saya tidak menyangka dari hal mendampingi ibu saya menjadi seperti sekarang ini. Satu hal, sayangi orang tua. Itu pesan saya kepada setiap orang,” ungkapnya.

Topik Menarik