Untuk Hari Depan Yang Lebih Baik

Fitness

Jenis Olahraga yang Sesuai Dengan Usia Untuk Hindari Obesitas

Olah raga penting di segala usia untuk menghindari terjadi nya obesitas pada seseorang. Penelitian sudah membuktikan bahwa obesitas banyak terkait dengan berbagai penyakit. Penyakit yang sering terjadi karena obesitas adalah:

  • Penyakit jantung dan stroke
  • Tekanan darah tinggi
  • Diabetes
  • Beberapa jenis kanker
  • Penyakit kandung empedu dan batu empedu
  • Osteoartritis
  • Encok atau penyakit athritis lainnya
  • Masalah pernapasan, seperti sleep apnea

Tidak hanya anak muda saja yang bisa berolahraga, namun lansia juga bisa melakukan olahraga. Yang membedakan dari mereka yaitu jenis olahraga dan intensitasnya. Kini olahraga sudah masuk dalam kategori gaya hidup dengan tujuan agar tubuh tetap sehat dan bugar. Anda bisa melakukan olahraga sendiri maupun dengan trainer. Banyak pusat kebugaran yang menawarkan kelas untuk melakukan olahraga bersama seperti kelas yoga, kelas pilates, kelas zumba, kelas body combat, dan lain sebagainya.

Selain kelas di pusat kebugaran, Anda juga bisa melakukan olahraga sendiri di rumah. Anda bisa mudah memilih sesuai keinginan dan tujuan. Namun, perlu diperhatikan lagi bahwa olahraga harus disesuaikan dengan usia Anda. Pada usia 20 tahun ke atas, tubuh masih kuat dan berenergi tinggi maka olahraga yang dipilih bisa dengan intensitas tinggi. Beda halnya pada lansia, olahraga yang dilakukan lebih santai seperti berenang atau jalan santai di taman.

Jenis Olahraga Sesuai Usia

Untuk mengetahui olahraga apa saja yang baik dan cocok di usia Anda, berikut penjelasannya :

Masa remaja

Masa pertumbuhan dan perkembangan di usia remaja sangat pesat, diperlukan tubuh yang aktif bergerak dan didukung dengan makanan yang bernutrisi serta berserat tinggi. Olahraga di masa remaja bertujuan untuk mengontrol berat badan, membentuk tulang yang kuat, membangun kepercayaan diri, dan menjaga pola tidur yang sehat. Ajak anak Anda untuk berolahraga yang cocok dimasanya seperti berenang, bermain sepak bola, senam, bela diri, dan lain sebagainya.

Usia 20 tahun-an

Pada masa ini, biasanya aktivitas yang dilakukan sangat padat sehingga rasa malas untuk berolahraga seringkali datang. Padahal, di usia 20 tahun-an memiliki metabolisme yang tinggi dan diharuskan untuk melakukan olahraga. Jenis olahraga yang bagus di usia ini yaitu kardio dan berlari dalam waktu sekitar 30 menit yang dilakukan tiga kali dalam seminggu. Selain itu, yoga juga baik dilakukan di masa usia 20 tahun-an. Dengan aktivitas yang padat, yoga bisa mengurangi depresi, stres, dan mengontrol pola tidur yang berkualitas.

Usia 30 tahun-an

Memasuki usia 30 tahun-an, metabolisme mulai menurun dan otot mulai melemah. Sehingga frekuensi olahraga pun sudah seharusnya diturunkan. Olahraga yang cocok di usia ini yaitu berenang dengan jarak menengah, bersepeda, atau bisa juga mencoba untuk angkat beban dengan tujuan  menjaga massa otot. Olahraga bisa dilakukan dua kali dalam seminggu dengan durasi selama 30 menit.

Usia 40 tahun-an

Di usia ini masa penuaan mulai terasa, untuk itu sebaiknya Anda sudah harus meninggalkan olahraga yang memiliki intensitas tinggi. Pada masa ini, rasa malas sering muncul untuk berolahraga. Tapi sebaiknya paksakan diri untuk tetap melatih fisik. Jika tidak, berat badan akan naik dikarenakan kinerja metabolisme menurun. Selain itu, banyak penyakit yang bisa menyerang seperti penyakit jantung, stroke, kanker dan penyakit lainnya. Olahraga yang cocok untuk usia ini yaitu yoga, pilates, jogging, dan berjalan kaki. Lakukan olahraga tiga kali dalam seminggu dengan intensitas durasi selama 30 menit.

Usia 50 tahun-an

Kondisi tubuh yang mudah lelah di usia 50 tahun-an, dianjurkan untuk berolahraga dengan intensitas rendah. Olahraga yang bisa dilakukan yaitu melakukan jalan kaki dan menari. Tidak perlu sampai berkeringat, hanya dibutuhkan agar tubuh tetap bergerak. Lakukan tiga kali dalam seminggu dengan durasi selama 30 menit. Bisa dilakukan pada pagi atau sore hari.

Usia 60 tahun - ke atas

Di usia ini diperlukan perhatian yang ekstra untuk tetap bergerak. Olahraga bisa dilakukan dengan yoga, berjalan, dan berkebun. Dengan berolahraga bisa menghindari penyakit diabetes, stroke, dan kanker. Lakukan selama dua kali dalam seminggu dengan durasi selama 30 menit. Temani atau panggil perawat untuk mendampingi selama melakukan olahraga.

Jadi, untuk malakukan olahraga sebaiknya Anda tidak hanya mementingkan keinginan namun perlu diperhatikan pada kebutuhan tubuh dan disesuaikan dengan usia agar terhindar dari serangan penyakit.

Efek Negatif Obesitas Pada Kesehatan

Orang dengan kondisi obesitas memiliki peluang risiko terhadap penyakit lebih tinggi. Obesitas tidak hanya penambahan lapisan lemak pada paha, lengan, atau perut. Ada konsekuensi lebih besar dari pola makan yang tidak baik dan kurang bergerak ini. Tak hanya itu, biokimia tubuh juga berperan untuk menghubungkan organ dengan kesehatan fisik dan mental. Begitu pula dengan obesitas, pasti akan berdampak pada organ-organ di dalam tubuh. Masalah obesitas mempengaruhi hampir setiap bagian tubuh, berikut lima organ yang bisa rusak akibat obesitas.

Jantung

Sel lemak di dalam tubuh membutuhkan oksigen untuk tetap hidup. Itu artinya jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke lebih banyak pembuluh darah. Ditambah lagi, semakin banyak lemak yang terakumulasi pada dinding arteri, maka semakin sempit ruang darah bergerak di dalamnya dan jantung pun harus bekerja lebih keras.

Usus besar

Pada pria maupun wanita yang tergolong obesitas, risiko kanker usus atau kolon meningkat. Ini terjadi karena pola makan tinggi daging merah dan daging olahan, kedua makanan itu merupakan faktor utama terjadinya polip kolon, tanda awal potensial kanker kolon.

Otak

Sebuah studi menemukan, fungsi kognitif menunjukkan hubungan dengan obesitas. Menurut studi tersebut obesitas dapat  berisiko penurunan fungsi kognitif secara dini. Salah satu hipotesis yang menjelaskan ini adalah obesitas mempengaruhi kerusakan area putih pada otak yang memberikan sinyal pada organ tubuh.

Kulit

Gangguan obesitas terhadap kulit, misalnya muncul stretch mark, seringkali dianggap remeh. Padahal ganguan kulit yang terjadi mungkin akan lebih banyak dan berbahaya. Beberapa di antaranya adalah perubahan hormon terkait obesitas dapat menyebabkan acanthosis nigricans, penebalan dan menggelapnya warna kulit terutama di sekitar leher, atau pembengkakan dan tertariknya kulit yang menyebabkan ruam dan iritasi yang disebut dengan stasis dermatitis. Menjaga kesehatan kulit bukan hanya urusan kecantikan, karena permukaan kulit merupakan pelindung utama dari tubuh. Tertariknya kulit karena obesitas dapat berdampak serius bagi kesehatan.

Paru-paru

Organ ini ternyata juga menerima risiko yang tinggi akibat lemak berlebihan di dalam tubuh. Sebuah studi tahun 2010 menunjukkan, banyaknya jumlah sel lemak di dalam tubuh mengurangi kapasitas organ secara keseluruhan untuk memperoleh udara. Orang dengan obesitas juga cenderung untuk mengalami sleep apnea atau henti napas saat tidur. Bila tidak segera ditangani, maka henti napas akan mengurangi kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuh, hingga mengakibatkan pengentalan darah yang berakibat fatal.

Lutut dan pinggang

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Di samping itu juga berisiko mengalami nyeri pada sendi lutut dan punggung akibat tubuh menopang beban yang berlebih.

Ingin hidup Anda lebih sehat dan bahagia? Dapatkan update terbaru dari PerawatNers seputar tips dan info kesehatan di sini.

Topik Menarik