Setiap enam detik, satu orang yang terserang stroke. Sekitar 16 juta per tahun mengalami stroke di seluruh dunia. Kabar baiknya, 80% kasus stroke dapat dicegah.
Stroke merupakan salah satu penyakit yang menakutkan. Karena stroke dapat menyebabkan kerusakan otak, kelumpuhan hingga kematian. Bagaimana mencegah stroke?
Apa yang disebut stroke? Stroke adalah gangguan aliran darah ke otak, bisa berupa sumbatan atau pecahnya pembuluh darah, dan dapat menimbulkan kerusakan pada struktur otak. Gejalanya bervariasi tergantung struktur otak mana yang teserang.
Stroke menjadi penyakit nomor dua penyebab kematian di seluruh dunia. Karena itu kesadaran stroke menjadi concern banyak pihak. Tak heran untuk meningkatkan kesadaran tentang stroke juga dikenal World Stroke Day yang diperingati setiap 29 Oktober.
“Indonesia termasuk negara yang memiliki banyak kasus stroke. Belum ada angka pasti. Diperkirakan 12 dari 1000 orang di Indonesia terkena Stroke. Tidak hanya itu, usia yang mengalami stroke juga semakin muda usia. Jadi jangan dianggap stroke hanya menyerang usia lanjut,” jelas dr Widya Sarkawi SpS selaku Direktur RS Pusat Pertamina saat bertemu dengan PerawatNers.com.
Mengenal Dua Tipe Stroke
Ada dua jenis stroke yang dikenal. Pertama yang disebabkan pembuluh darah yang pecah disebut stroke perdarahan atau stroke hemoragik. Kedua, merupakan stroke yang disebabkan penyumbatan pada pembuluh darah otak disebut stroke iskemik. Dari dua jenis stroke ini, ternyata tipe stroke iskemik yang lebih dominan dialami masyarakat.
“Memang stroke itu terjadi karena ada beberapa hal. Kalau memang dasarnya seseorang yang memiliki keturunan ada gangguan pada pembuluh darahnya. Istilahnya memang ada faktor risiko dari sananya, karena bentuknya memang tidak normal,” tambah dr Widya.
Hal memprihatinkan dr Widya adalah saat ini banyak anak muda yang mengalami stroke. Penyebabnya akibat lifestyle tidak sehat merokok, konsumsi junk food, alkohol, kegemukan, dan lainnya. Saat ini saya banyak menemukan anak-anak muda yang terserang stroke karena pengaruh drugs (narkoba). Zaman sekarang banyak anak yang drugs tidak dengan suntik, tapi memakai obat-obatan. Namun mereka tidak tahu kalau obat-obatan itu dapat memepengaruhi kondisi pembuluh darah dan mudah pecah sehingga mereka terserang stroke,” tambahnya.
Faktor Risiko Stroke
Ada beberapa yang menjadi faktor risiko seseroang terkena stroke. Memang ada yang faktor risiko yang tidak dapat dimofikasi seperti berat badan lahir, ras atau etnis serta faktor genetik. “Faktor keturunan biasanya dengan adanya kondisi pembuluh darah yang tidak normal,” jelas dr Widya.
Selain itu ada faktor risiko yang dapat dimodifikasi di antaranya, hipertensi, obesitas, diabetes mellitus, diet dan nutrisi tidak seimbang, kurangnya aktivitas fisik, kolesterol, merokok, kelainan irama jantung (Atrial Fibrilasi, dan penyakit jantung lainnya dan sebagainya.
“Karena itu melihat risiko stroke ini, sebetulnya 80 persen penyakit stroke dapat dicegah. Untuk pria dan wanita, sama-sama memiliki risiko serangan stroke. Namun, biasanya di atas usia 55 tahun seseorang akan kian besar berisiko stroke. Karena itu faktor konsultasi ke dokter, minum obat bila dibutuhkan, dan hidup sehat menjadi bagian paling penting pencegahan stroke,” tambah dr Wiyda.
Pengobatan Stroke
Penangan dan mengobati kedua jenis stroke berbeda. Selain dari gejala dan faktor risiko, dokter juga memerlukan pemeriksaan pencitraan seperti Computed Tomography scan (CT scan), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Magnetic Resonance Angiogram (MRA), CT/MR Perfusion, dan/atau Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk menentukan penatalaksanaan pasien stroke.
“Untuk mengatasi stroke saat ini pengobatannya bila terjadi penggumpalan darah di otak, maka dapat diatasi dengan memberikan obat pengencer darah. Ini bisa dilakukan melalui pembuluh darah untuk sampai ke bagian otak dan dapat mengatasi darah yang kental. Ibaratnya pipa pembuluh darah bisa terdapat plak yang dapat ditarik,” papar dr Widya.
Mewaspadai dan Mencegah Stroke
Apa yang dapat dilakukan untuk menurunkan tingkat risiko stroke? Berikut ini yang dapat Anda lakukan :
*Mengontrol tensi darah tinggi Anda. Menurut dr Widya 80% kasus stroke terjadi akibat darah tinggi. Karena itu harus control dokter, rajin minum obat dan bergaya hidup sehat.
- Lakukan olahraga ringan lima kali setiap minggu
- Konsumsi makanan sehat, makanan yang seimbang lebih banyak serat seperti buah dan sayur dan rendah garam
- Menjaga angka kolesterol di ambang batas normal
- Menjaga berat badan ideal (tidak gemuk)
- Berhenti merokok dan jangan menjadi perokok pasif
- Kurangi minum alkohol
- Kurangi risiko diabetes dan konsultasi dokter
- Perbanyak informasi tentang stroke
- Mengenali dan mengobati atrial fibrillation atau Fibrilasi atrium (AF) adalah salah satu jenis aritmia. Aritmia adalah sebuah masalah dengan kecepatan atau irama denyut jantung)
Mengenali Gejala Stroke
Ada beberapa gejala stroke yang muncul di antaranya adalah : pandangan ganda, pusing berputar atau vertigo, kesemutan, kejang, kesadaran menurun, telinga berdenging, nyeri kepala, tidak bisa bicara, gangguan daya ingat, lapangan pandang yang menyempit, gerakan yang sulit dikontrol dan lainnya. Bila ada gejala-gejala ini muncul, Anda segera hubungi dokter untuk memeriksakan kondisi Anda.
“Sebetulnya pada kasus stroke itu bisa terjadi serangan ringan namun seringkali banyak orang tidak menyadari. Stroke yang telah dialami pada seseorang juga dapat terjadi dalam jangka waktu 24 jam. Karena itu dokter perlu mewaspadai hal ini. Biasanya untuk aman dokter akan menunggu 3×24 jam dan tidak terjadi stroke lagi. Dari stroke akan menjadi stroke berulang dalam 24 jam pertama bisa 70 persen terulang. Serangan yang lebih parah. Bisa awalnya ringan Cuma hanya orang tidak sadar. Lalu menajdi serangan yang lebih hebat.
Pemulihan dan Fisioterapi Stroke
Namun begitu, saat recovery pasien stroke dapat mengalami lagi. Hal ini terkait misalnya tetap melakukan gaya hidup tidak sehat, tidak mengontrol penyebab utama seperti hipertensi, kolesterol, atau diabetes dan lainnya. Karena itu bagi seseorang yang pernah kena stroke, perlu waspada dan menjaga agar tidak terserang stroke lagi. Karena biasanya serangan kedua itu bisa lebih parah dari yang pertama, “ terang dr Widya.
Masa pemulihan stroke juga tidak mudah. Recovery menurut dr Widya bisa berlangsung lama bisa dua tahun lebih, tergantung seberapa banyak kerusakan otak yang dialami seseorang. Biasanya yang muncul adalah bibir yang tertarik, berkurangnya kemampuan menelan dan bicara, kelumpuhan tangan atau kaki, dan lainnya.
“Karena itu pemulihan bisa dibantu dengan terapi. Mulai fisioterapi, okupasi, dan wicara. Saat terapi memang dibutuhkan motivasi yang kuat dari penderita stroke. Dalam hal ini dukungan keluarga sangat penting untuk membangkitkan semangat pasien untuk mencapai pemulihan maksimal. Kontrol dan minum obat menjadi faktor penting juga untuk mencegah stroke berulang,” jelas dr Widya.