Untuk Hari Depan Yang Lebih Baik

Nutrisi

Fakta Pemanis Buatan Pengganti Gula Pasir

Jika Anda pergi ke supermarket banyak pilihan pemanis yang tak terhitung jumlahnya, baik dalam kategori gula sesungguhnya dan pemanis buatan. Anda juga akan melihat banyak pemanis yang menjadi bahan makanan yang dikonsumsi.

Semakin meningkatnya jumlah orang yang terkena penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, stroke, hingga diabetes, Anda perlu semakin hati-hati dengan apa yang dikonsumsi. Salah satu jenis bahan makanan yang menjadi momok adalah gula. Konsumsi gula yang berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan di kemudian hari meningkatkan risiko timbulnya gangguan kesehatan.

Apa Itu Pemanis Buatan?

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pemanis buatan adalah jenis senyawa pengganti gula yang bahan bakunya tidak dapat ditemukan di alam dan dihasilkan melalui proses kimiawi. Contohnya adalah aspartam, siklamat, sukrolosa, dan sakarin. Jenis senyawa kimia ini biasa digunakan pada makanan olahan seperti sirup, soda, selai, hingga makanan khusus yang ditujukan bagi penderita diabetes atau makanan khusus diet. Jika Anda melihat suatu produk memiliki label sugar free atau bebas gula, cobalah cek komposisinya. Biasanya ada tambahan pemanis non alami ini didalamnya.

Kelebihan Pemanis Buatan

Kelebihan utama dari senyawa kimia ini adalah mayoritas tidak memiliki kalori. Atau kalaupun mengandung kalori, jumlahnya sangat sedikit. Jenis senyawa pemanis non alamai yang mengandung kalori adalah golongan pemanis yang berasal dari alkohol seperti manitol, sorbitol, dan xylitol. Dengan jumlah kalori yang sedikit bahkan hampir tidak ada maka bahan baku ini sering digunakan dalam produk yang dikhususkan bagi mereka yang sedang diet.

Selain itu senyawa ini cenderung tidak meningkatkan kadar gula darah, karena memang bukan termasuk karbohidrat. Berbeda dengan gula pasir yang termasuk golongan karbohidrat dan dapat memicu kerja insulin ketika dikonsumsi. Maka dari itu bahan artificial sweetener ini sering pula ditemukan dalam produk khusus bagi penderita diabetes.

Batasan Maksimal Konsumsi Per Hari?

Senyawa ini rendah kalori bisa digunakan sehari-hari dalam makanan Anda. Biasanya pemanis rendah kalori ini digunakan dalam makanan dan minuman olahan (processed food) termasuk soft drinks, powdered drink mixes, permen, puding, makanan kaleng, selai, jelly, produk susu, dan banyak makanan dan minuman lain.

Pemanis buatan sudah diatur batas penggunaannya oleh BPOM. Contohnya aspartam, batas konsumsinya per hari adalah 40 mg/kg. Artinya jika berat badan Anda 60 kg, maka batas konsumsi aspartam Anda dalam sehari adalah 2400 mg.

Berapa Batas Konsumsi Gula Per Hari Yang Aman ?

Menurut rekomendasi American Heart Association batasan konsumsi gula untuk pria adalah tidak lebih dari 9 sendok teh gula per hari atau 36 gram atau 150 kalori. Sedangkan untuk wanita adalah maksimal 6 sendok teh per hari atau 25 gram atau 100 kalori. Mengurangi konsumsi gula dapat mengurangi secara drastis resiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

Sebagai ilustrasi satu kaleng minuman bersoda 350ml rata-rata mengandung 8 sendok teh gula atau sebanyak 32 gram. Dengan kata lain kita sudah meghabiskan jatah konsumsi gula kita hari itu.

Daftar Pemanis Buatan yang Beredar di Indonesia

Aspartam

Aspartam adalah pemanis buatan yang paling sering digunakan dalam industri makanan, karena tidak menyisakan after taste pahit. Tapi derajat kemanisannya sangat tinggi, sekitar 60-220 kali gula murni. Dari semua artificial sweetener, hanya aspartam yang mengalami metabolisme dalam tubuh. Aspartam dirombak secara cepat dan sempurna menjadi asam amino asam aspartat, fenilalanin dan metanol. Meski tak mengandung kalori, batas konsumsinya hanya 50 ml/kg berat badan.

Asesulfam Potassium

Acesulfame-K atau yang dikenal dengan Asesulfam potasium juga sering ditambahkan dalam produk makanan dan minuman kemasan di Indonesia. Zat pemanis ini akan dikeluarkan melalui urine tanpa mengalami perubahan. Karena tingkat kemanisannya tinggi sekitar 200 kali gula pasir, penggunaan asesulfam sebaiknya dibatasi dalam dosis yang kecil.

Siklamat

Siklamat punya derajat kemanisan 30 kali gula pasir. Hasil penelitian Codex Alimentarius Commissions pada 1984 menyimpulkan bahwa siklamat tidak terbukti menyebabkan mutagen dan kanker. Meski demikian, Amerika Serikat dan Kanada tidak mengizinkan penggunaan siklamat. Di Indonesia, penggunaannya dibolehkan BPOM selama dosisnya tepat.

Sakarin

Pelopor senyawa buatan ini sejak seabad lalu ini punya indeks kemanisan 300-500 dari gula pasir. Sejauh ini, penggunaan sakarin masih diizinkan BPOM dalam takaran wajar. Namun perlu hati-hati, karena mulai banyak penelitian yang menyimpulkan kalau konsumsi sakarin bisa berpotensi menimbulkan kegemukan.

Sukralosa

Sukralosa punya rasa 600 kali lebih manis dari gula murni. Meski demikian, sukralosa tidak dapat dicerna tubuh, sehingga tak berpengaruh pada gula darah. Tak seperti gula, pemanis ini tidak menyebabkan kerusakan pada gigi atau potensi penyakit lainnya seperti diabetes. Kelebihan lainnya, sukralosa juga bisa diolah dalam suhu tinggi tanpa mengurangi rasa manisnya.

Eritritol

Eritritol adalah gula alkohol dengan derajat kemanisan kecil dibanding lainnya, yakni 0,7 kali gula pasir. Pemanis ini termasuk Generally Recognized As Safe atau GRAS, yang cenderung aman digunakan. Lebih dari 90 persen eritritol yang diserap usus halus dikeluarkan melalui urine tanpa perubahan dalam kurun waktu 24 jam. Nilai kalori yang terkandung hanya 0,2 kkal/gram sehingga tak menyebabkan karies gigi, gula darah, dan insulin penderita diabetes.

Neotam

Pemanis buatan yang merupakan turunan aspartam ini punya derajat kemanisan yang sangat tinggi, yaitu 7.000 – 13.000 kali gula. Beberapa studi menyebutkan neotam aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek buruk khusus. Penambahan neotam pada konsentrasi tertentu dapat menghilangkan rasa pahit, rasa mentah, dan rasa nutty dari produk kacang kedelai. Ketika dikonsumsi, neotam dapat dimetabolisis dan tidak akan terakumulasi di dalam tubuh, karena akan dikeluarkan melalui urin atau feses.

Isomalt

Isomalt dibuat dari sukrosa (gula pasir) dan memiliki derajat kemanisan 0,45-0,65 kali gula murni. Sama seperti eritritol, isomalt termasuk GRAS, aman untuk gigi, dan tak menyebabkan kenaikan gula darah penderita diabetes I atau II.

Xylitol

Xylitol punya nilai kalori 2,4 kkal/gram yang tergolong rendah. Pemanis buatan yang tegolong alkohol ini punya derajat kemanisan satu kali gula pasir dan termasuk GRAS (Generally Recognized As Safe). Karena tidak menyebabkan karies gigi, kebanyakan xylitol digunakan sebagai campuran permen.

Sorbitol

Sama seperti silitol, sorbitol seringkali dijadikan pemanis dalam produk permen karena tak menimbulkan karies gigi. Sorbitol termasuk glukosa dengan derajat kemanisan 0,5-0,7 kali gula pasir. Selain pemanis, zat ini juga bisa menjadi humektan, pengental, dan mencegah terbentuknya kristal pada sirup. Sedangkan, bagi penderita diabetes dan pelaku diet rendah kalori, sorbitol aman dikonsumsi selama tak berlebihan.

Maltitol

Maltitol adalah gula alkohol dengan derajat kemanisan 0,9 kali gula pasir. Umumnya dikenal aman karena termasuk GRAS. Zat pemanis ini dibuat dengan cara hidrogenasi maltosa yang diperoleh dari hidrolisis pati. Namun, kandungannya tak menyebabkan kerusakan gigi atau peningkatan insulin pada penderita diabetes.

Manitol

Manitol termasuk GRAS (Generally Recognized As Safe) dan merupakan gula alkohol dengan derajat kemanisan 0,5-0,7 kali gula pasir. Dapat digunakan sebagai pengganti gula bagi penderita diabetes dan aman untuk kamu yang lagi berdiet, karena kalorinya hanya 1,6 kkal/gram. Tapi perlu diperhatikan, konsumsi manitol lebih dari 20 gram per hari akan berefek laksatif.

Laktitol

Derajat kemanisan dari Laktitol berkisar 0,3-0,4 kali gula pasir. Termasuk GRAS atau umumnya dikenal aman karena tak merusak gigi. Laktitol juga banyak dimanfaatkan dalam produk khusus penderita diabetes. Sama dengan manitol, konsumsi laktitol perhari lebih dari 20 gram akan berefek laksatif.

Efek Samping Pemanis Buatan

Meski cenderung memiliki kandungan kalori yang lebih rendah, beberapa orang tetap takut menggunakannya karena dianggap dapat meningkatkan risiko kanker. Akan tetapi, para ahli dari National Cancer Institute menyatakan bahwa belum terdapat bukti ilmiah bahwa senyawa yang terkandung dalam pemanis non alami yang disetujui tersebut bisa menyebabkan kanker ataupun masalah kesehatan lainnya.

Selain itu, banyak hasil penelitian lainnya yang membuktikan senyawa ini secara umum aman bila dikonsumsi sesuai anjuran bahkan pada wanita hamil sekalipun. FDA (Badan pengendalian makanan dan obat Amerika yang setara dengan BPOM di Indonesia) juga mengakuinya aman untuk digunakan sebagai pengganti gula.

Cari Tahu : Apa Saja Ciri Ciri Diabetes Pada Pria

Anjuran Penggunaan Pemanis Buatan

American Heart Association (AHA) dan American Diabetes Association (ADA) mengambil langkah yang sangat hati-hati dalam menganjurkan penggunaan pemanis non alami yang tidak mengandung nutrisi ini sebagai pengganti gula untuk memerangi obesitas, sindrom metabolik dan diabetes hingga penyakit jantung.

Penggunaan pemanis non nutrisi ini secara bijaksanas dapat membantu mengurangi asupan gula tambahan dalam diet sehari-hari sehingga mampu menurunkan jumlah kalori yang kita makan. Mengurangi kalori dapat membantu kita dalam mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat, sehingga menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes serta kematian.

Namun ada hal yang lebih kompleks dalam pemanfaatan pemanis buatan yang tidak alami ini termasuk pengaruhnya terhadap berat badan. Dr. David Ludwig, spesialis obesitas dan penurunan berat badan di Rumah Sakit Anak Boston yang berafiliasi dengan Universitas Harvard, memiliki ketertarikan yang kuat pada produk yang dirancang untuk membantu orang menurunkan berat badan. Akan tetapi apa yang telah dia pelajari tentang senyawa kimia pemanis ini telah membuatnya khawatir.

Karena produk-produk ini mengubah cara kita mencicipi makanan. Zat kimia pemanis pengganti gula ini jauh lebih manis daripada gula tebu dan sirup jagung yang mengandung fruktosa tinggi. Jumlah yang sangat kecil saja dapat menghasilkan rasa manis yang sebanding dengan gula. Tetapi tanpa kalori yang sebanding atau yang lebih dikenal dengan kalori kosong.

"Reseptor gula berekasi dengan berbeda karena efek rangsangan yang berlebihan akibat sering menggunakan pemanis kimiawi yang sangat kuat ini. Hal ini dapat membatasi toleransi lidah manusia untuk rasa yang lebih kompleks" demikian penjelasan dari Dr. Ludwig.

Itu berarti orang yang secara rutin menggunakan senyawa pemanis buatan ini akan menemukan makanan yang kurang manis, seperti buah, sayur mayur hingga daging sebagai makanan yang kurang menarik dan tidak manis. Sehingga mereka akan menghindari makanan sehat ini dan akan selalu mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan pemanis non alami ini. Anak anak juga akan selalu menghindari memakan sayur sayuran karena rasanya pahit.

Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa pemanis buatan bisa membuat adiksi atau ketagihan. Dalam penelitian terhadap tikus yang diberikan narkoba jenis kokain dan kemudian diberi pilihan antara kokain atau pemanis buatan jenis sakarin sebagian besar memilih sakarin.

Topik Menarik