Untuk Hari Depan Yang Lebih Baik

Kesehatan

Siapa Saja Yang Memiliki Faktor Resiko Covid-19

Faktor resiko covid-19 atau coronavirus adalah penyakit baru dan informasi yang tersedia masih sangat terbatas terutama mengenai faktor risiko yang memperparah penyakit tersebut. Berdasarkan informasi yang tersedia saat ini dan keahlian klinis, orang dewasa yang lebih tua dan orang-orang dari segala usia yang memiliki kondisi medis serius mungkin berisiko lebih tinggi untuk terserang penyakit parah dari COVID-19.

Para pakar dari World Health Organization (WHO) dan The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dari Amerika Serikat menyebutkan ada beberapa faktor resiko Covid-19 yang mampu menginfeksi seseorang secara lebih parah, berbahaya dan mematikan lebih dari individu yang lainnya.

Faktor Resiko Covid-19 Pada Orang Dewasa

Berikut faktor risiko Covid-19 yang dirangkum dari situs CDC yang menyebabkan corona virus ini menginfeksi seseorang secara lebih parah dari yang lainnya:

  • Pria memiliki resiko lebih besar daripada wanita
  • Mereka yang kelebihan berat badan, gemuk atau obesitas
  • Para penderita penyakit diabetes
  • Mereka dengan penyakit ginjal kronis
  • Para penderita penyakit hati seperti hepatitis
  • Orang dewasa yang berusia di atas 65 tahun
  • Mereka yang tinggal di panti jompo atau fasilitas kesehatan

Semua orang dari segala lapisan umur baik yang berusia muda hingga lansia bila memiliki riwayat dan kondisi medis dibawah ini memiliki resiko untuk terjangkit secara parah.

  1. Memiliki riwayat penyakit paru kronis
  2. Memiliki riwayat penyakit asma sedang hingga akut
  3. Penyakit jantung yang serius
  4. Mereka yang imun sistemnya lemah, kelainan sistem imun atau immunocompromised seperti
    1. Menjalani perawatan karena penyakit kanker
    2. Transplantasi organ atau sumsum tulang
    3. Para perokok aktif
    4. Defisiensi imun,
    5. Penderita HIV/AIDS

Berdasarkan data terbaru seperti yang dirilis oleh CDC pada tanggal 16 Juni 2020, mereka yang memiliki riwayat penyakit jatung mempunyai resiko 6 kali lebih besar untuk diopname di rumah sakit dan 12 kali lebih besar untuk mati dari orang yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung bila terkena infeksi virus corona. Riwayat penyakit yang paling sering berakibat fatal antara lain penyakit jantung (32 persen), diabetes (30 persen), penyakit paru paru kronis (18 persen) sedangkan sisanya adalah penyakit liver, penyakit ginjal dan mereka yang memiliki disabilitas intelektual.

kembali keatas

Faktor Resiko Covid-19 Pada Anak Anak

Untuk anak anak dibawah umur 15 tahun memiliki resiko yang sangat kecil untuk terkena infeksi covid-19 yaitu hanya sebesar 0.01 persen. Seperti yang dikutip dari situs BBC, anak anak juga memiliki resiko yang sangat kecil untuk menularkan virus covid-19 ini pada orang lain baik sesama anak-anak maupun pada orang dewasa.

kembali keatas

Penularan Oleh Orang Tanpa Gejala

Menurut Maria Van Kerkhove yang menjabat sebagai kepala divisi Outbreak Investigation Task Force dari WHO mengatakan seperti yang dikutip dari The New York Post, bahwa Orang Tanpa Gejala atau yang lebih dikenal dengan sebutan OTG sangatlah jarang menularkan virus Covid-19 pada yang lain.

Banyak negara telah menindak lanjuti kasus tanpa gejala ini dan melakukan pelacakan kontak secara detil dan seksama terhadap OTG tetapi tidak menemukan sama sekali kasus penularan lanjutan. Jadi penularan oleh OTG sangat jarang sekali terjadi.

Maria Van Kerkhove mengajurkan agar pemerintah memprioritaskan usaha mereka untuk mendeteksi dan mengidentifikasi kasus Covid-19 yang disertai dengan gejala dan segera melakukan isolasi terhadap mereka yang menunjukan gejala serta melakukan pelacakan kontak dan melakukan karantina untuk mencegah penularan lebih lanjut.

Kontroversi

Pernyataan yang dikeluarkan oleh WHO ini telah menyebabkan kontroversi dimana-mana karena dikhawatirkan mendukung kelompok yang menentang pemakaian masker dan social distancing.

Seperti yang diberitakan oleh Health Feedback, kontroversi dikalangan para ahli kesehatan ini disebabkan karena ketakutan akan perbedaan persepsi oleh orang awam dan para ahli kesehatan tentang apa yang disebut dengan Orang Tanpa Gejala atau OTG atau asymptomatic.

Secara keilmuan, orang tanpa gejala ini adalah orang yang tidak pernah menunjukan gejala sama sekali selama masa infeksi. Para ahli kesehatan ini khawatir bahwa orang awam akan menyamakan asymptomatic ini dengan presymptomatic dan paucisymptomatic hingga menyebabkan miskomunikasi serta terlihat seperti menyalahkan para hali kesehatan yang mendukung social distancing tanpa memperhitungkan efek ekonomi dan psikologis dari kebijakan social distancing ini.

Berdasarkan data dari CDC di Amerika Serikat, 40% dari kasus penularan Covid-19 ini terjadi sebelum orang tersebut menunjukan gejala.

kembali keatas

Golongan Darah A Memiliki Resiko Serius Karena Corona

Para peneliti di Jerman menemukan golongan darah tertentu berisiko alami kondisi serius saat terkena virus Corona. Karena sistem antibodi pada tubuh manusia bervariasi tergantung dari golongan darah. Salah satunya adalah gen yang menentukan golongan darah yang membuat pasien dengan golongan darah A memiliki faktor resiko covid-19 sebesar 50 persen lebih tinggi alami risiko serius karena Corona hingga membutuhkan oksigen atau menggunakan ventilator.

Para peneliti mengambil sampel darah dari 1.610 pasien Corona di rumah sakit Italia dan Spanyol yang membutuhkan oksigen atau harus menggunakan ventilator. Mereka mengekstraksi DNA dan memindainya menggunakan teknik yang disebut genotyping.

Mereka kemudian membandingkan temuan ini dengan 2.205 donor darah yang tidak memiliki virus Corona COVID-19. Kemudian mereka melihat DNA pasien COVID-19 untuk menentukan apakah mereka memiliki kode genetik yang sama berdasarkan golongan darah pasien

"Kami belum bisa menguraikan apakah sebenarnya golongan darah itu yang menunjukkan risiko atau beberapa varian genetik yang terkait dengan golongan darah. Kami memperkirakan perlindungan 50 persen lebih tinggi untuk golongan darah O dan risiko 50 persen lebih tinggi untuk golongan darah A," kata Prof Franke.

Sementara itu, Sakthi Vaiyapuri, profesor di bidang farmakologi kardiovaskular di Reading University yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa kelompok darah yang berbeda memiliki antibodi yang berbeda. Hal ini dapat memberikan perlindungan terhadap beberapa penyakit tetapi tidak pada yang lain seperti juga faktor resiko covid-19 dimana seseorang dapat terserang secara lebih parah dan mematikan sementara ada yang sistem imunnya super kuat sehingga tidak menunjukan gejala sama sekali

kembali keatas

Pria Botak Memiliki Resiko Lebih Tinggi

Data awal pandemi di Wuhan, Cina, pada bulan Januari telah menunjukkan bahwa pria memiliki kemungkinan untuk meninggal setelah terserang virus Covid-19. Di Inggris, sebuah laporan minggu ini dari Public Health England menemukan bahwa laki-laki pada usia muda dan yang bekerja memiliki resiko dua kali lebih mungkin untuk mati setelah terdiagnosis dengan Covid-19 daripada wanita.

Semakin banyak bukti dan penelitian yang menyatakan bahwa pria botak memiliki faktor resiko lebih tinggi menderita gejala Covid-19 yang parah. Hubungannya sangat kuat sehingga beberapa peneliti menyarankan kebotakan harus dianggap sebagai faktor risiko yang disebut "Faktor Gabrin", setelah dokter AS pertama yang mati karena Covid-19 di Amerika Serikat, Dr Frank Gabrin, yang juga botak.

Dalam sebuah penelitian seperti yang dikutip oleh The Telegraph, 79 persen pria yang menderita Covid-19 di tiga rumah sakit di Madrid adalah pria botak. Penelitian terhadap 122 pasien, yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Dermatology, menemukan bahwa 71 persen pria penderita coronavirus ini adalah pria botak. Tingkat kebotakan pada pria kulit putih ini memiliki kesamaan dengan hasil penelitian sebelumnya yaitu antara 31-53 persen. Korelasi serupa juga ditemukan dalam penelitian di antara sejumlah kecil wanita yang mengalami kerontokan rambut.

Hal ini menyebabkan para peneliti semakin percaya bahwa hal ini terkait dengan androgen - hormon seks pria seperti testosteron - dapat berperan tidak hanya dalam kerontokan rambut, tetapi juga dalam meningkatkan kemampuan virus corona untuk menyerang sel.

Karen Stalbow, Head of Policy di Prostate Cancer UK, mengatakan: "Ada beberapa penelitian terbaru yang menunjukkan mungkin ada hubungan antara hormon pria dan peningkatan risiko terjangkit oleh Covid-19"

Spesialis kanker prostat mengetahui peranan androgen dalam penyakit karena di prostat, hormon androden ini dapat merangsang enzim yang mampu meningkatkan pertumbuhan kanker. Pada bulan April, para peneliti ini menerbitkan sebuah makalah dalam jurnal Cell yang membuktikan bahwa enzim TMPRSS2 juga terlibat dalam infeksi coronavirus.

Untuk menginfeksi sel, coronavirus - termasuk novel SARS-CoV-2, yang menyebabkan Covid-19 - menggunakan apa yang disebut protein 'lonjakan' yang berikatan dengan membran sel, suatu proses yang diaktifkan oleh enzim. Dalam hal ini, terbukti bahwa TMPRSS2 terkait erat dengan proses tersebut.

kembali keatas

Topik Menarik